ARAHBICARA.COM – Aktivitas warga Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, sudah ramai bahkan sebelum matahari terbit. Dari dapur-dapur sederhana, asap tipis mengepul menandai dimulainya proses pengolahan ikan pindang. Usaha rumahan ini bukan hanya jadi lauk harian, tetapi juga sumber penghidupan utama bagi banyak keluarga.

Dedi (48), salah satu pengrajin pindang, mengaku sudah puluhan tahun menekuni pekerjaan ini.

“Setiap hari kami mulai dari dini hari. Ikan segar diolah jadi pindang supaya siap dijual pagi hari. Kalau tidak begitu, pembeli bisa beralih ke tempat lain,” ujarnya, Senin (5/1/2026).

Menurutnya, proses pembuatan pindang membutuhkan ketelatenan. Mulai dari memilih ikan segar, merebus dengan bumbu khas, hingga mengemas sederhana agar tetap terjaga kualitas rasanya. Meski terlihat sepele, usaha ini menjadi penopang ekonomi keluarga sekaligus menyerap tenaga kerja lokal.

Tak sedikit rumah di Bantargadung yang berfungsi ganda sebagai tempat produksi. Skala usaha yang masih berbasis rumahan justru menjadi kekuatan, karena mampu melibatkan banyak warga tanpa modal besar.

“Di sini hampir satu kampung terlibat. Ada yang jadi pengolah, ada juga yang jual ke pasar-pasar. Jadi perputaran uangnya tetap di sini,” tambah Dedi.

Keberadaan usaha pindang ini memperlihatkan potensi besar sektor perikanan lokal. Meski belum dikelola secara modern, industri rumahan di Bantargadung mampu bertahan di tengah persaingan pasar. Para pelaku usaha berharap ada dukungan lebih dari pemerintah, terutama dalam hal pembinaan, akses permodalan, dan pemasaran.

Dengan dukungan tersebut, warga optimistis usaha pindang Bantargadung bisa berkembang lebih besar dan menembus pasar yang lebih luas. Di tengah kesederhanaan dapur-dapur warga, Bantargadung membuktikan bahwa kekuatan ekonomi bisa tumbuh dari tungku kecil yang menyala sejak dini hari, mengolah harapan satu pindang demi satu.

Repprter: Jowel
Redaktur: Rsd