ARAHBICARA.COM – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Sukabumi menggelar Majelis Ta’lim Aparatur pada 14 Oktober 2026 sebagai upaya memperkuat pemahaman keagamaan di lingkungan pegawai.

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan Disdukcapil Kabupaten Sukabumi itu menghadirkan Ust. Hasan Al Asy’ari sebagai penceramah. Dalam tausiahnya, ia membahas berbagai materi yang berkaitan dengan fikih ibadah, persoalan bersuci dan najis, khitan, serta pentingnya menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala Disdukcapil Kabupaten Sukabumi, Amir Hamzah, berharap kegiatan tersebut dapat menambah wawasan keagamaan pegawai sekaligus menjadi bekal dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.

Dalam tausiahnya, Ust. Hasan Al Asy’ari menyampaikan bahwa menjaga kesucian merupakan syarat penting dalam pelaksanaan salat. Karena itu, umat Islam perlu memahami aturan yang berkaitan dengan najis, baik yang terdapat pada badan, pakaian, maupun tempat ibadah.

Menurutnya, pemahaman yang baik tentang thaharah atau bersuci dapat membantu seseorang menjalankan ibadah dengan lebih tenang dan sesuai tuntunan agama.

Selain itu, ia juga mengajak jamaah untuk menyikapi perbedaan pendapat di kalangan ulama secara bijak. Perbedaan dalam persoalan fikih, kata dia, merupakan bagian dari kekayaan keilmuan Islam yang perlu dihargai.

Dalam kesempatan tersebut, Ust. Hasan Al Asy’ari turut mengingatkan pentingnya menjauhi segala sesuatu yang dapat memabukkan dan merusak akal.

“Setiap yang memabukkan adalah khamar, dan setiap khamar adalah haram,” ujar Ust. Hasan Al Asy’ari mengutip hadis riwayat Muslim.

Ia juga menjelaskan tentang khitan sebagai bagian dari fitrah manusia dan salah satu cara menjaga kebersihan diri sesuai ajaran Islam.

Menjelang akhir tausiah, jamaah diajak untuk melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar sesuai kemampuan masing-masing, baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun saat menjalankan tugas sebagai aparatur sipil negara.

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya. Jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman,” kata Ust. Hasan Al Asy’ari mengutip hadis riwayat Muslim.

(Rsd)