ARAHBICARA.COM – Pemerintah Kabupaten Sukabumi terus berupaya mempercepat penanganan infrastruktur yang rusak akibat bencana maupun faktor usia. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pembangunan Jembatan Gantung Leuwidingding yang menghubungkan Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, dengan Desa Sirnaresmi, Kecamatan Gunungguruh.
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kabupaten Sukabumi, Sendi A, mengatakan penanganan infrastruktur pascabencana masih menjadi tantangan bagi pemerintah daerah. Keterbatasan anggaran menjadi salah satu kendala dalam memperbaiki sejumlah jembatan yang mengalami kerusakan.
Hal itu disampaikan Sendi saat menghadiri musyawarah rencana pembangunan Jembatan Gantung Leuwidingding, Selasa (21/7/2026).
Menurutnya, berdasarkan hasil inventarisasi pemerintah daerah, terdapat 41 jembatan di Kabupaten Sukabumi yang terdampak bencana.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 23 jembatan mengalami kerusakan berat dan membutuhkan penanganan. “Alhamdulillah sampai saat ini sudah ada sekitar 14 jembatan yang berhasil ditangani, baik melalui APBD, bantuan CSR maupun swadaya masyarakat,” kata Sendi.
Ia menyebut, pembangunan Jembatan Gantung Leuwidingding menjadi salah satu contoh kolaborasi dalam penanganan infrastruktur. Dukungan CSR dinilai sangat membantu pemerintah daerah dalam mengatasi banyaknya kebutuhan rehabilitasi jembatan di wilayah Kabupaten Sukabumi.
“Untuk pembangunan jembatan ini kita kembali mendapatkan dukungan dari CSR. Tentunya ini harus kita apresiasi karena kebutuhan penanganan infrastruktur pascabencana cukup banyak,” ujarnya.
Sendi menambahkan, kerusakan jembatan di Kabupaten Sukabumi tidak seluruhnya disebabkan oleh bencana alam. Sejumlah infrastruktur penghubung antarwilayah juga mengalami penurunan kondisi karena usia konstruksi yang sudah cukup tua.
“Selain akibat bencana, ada juga jembatan yang usianya sudah lama sehingga konstruksinya mulai rapuh. Karena itu kita terus melakukan penguatan dan rehabilitasi secara bertahap,” jelasnya.
Menurut Sendi, keberadaan Jembatan Gantung Leuwidingding memiliki arti penting bagi aktivitas masyarakat karena menjadi salah satu akses penghubung antarwilayah. Bahkan, berdasarkan data Dinas Perkim, jembatan tersebut diproyeksikan menjadi jembatan gantung dengan bentang terpanjang di Kabupaten Sukabumi.
“Kalau berdasarkan data kami, ini akan menjadi jembatan gantung paling panjang di Kabupaten Sukabumi, dengan bentang sekitar 84 meter. Sebagian besar jembatan lainnya memiliki bentang sekitar 30 sampai 40 meter,” ungkapnya.
Untuk mendukung pembangunan, Dinas Perkim Kabupaten Sukabumi telah menyiapkan sejumlah dokumen teknis. Persiapan tersebut meliputi Detail Engineering Design (DED), gambar teknis, dokumen perizinan serta fasilitasi yang dibutuhkan masyarakat.
“Yang kami persiapkan adalah dokumen teknis, DED, gambar, perizinan serta fasilitasi kepada masyarakat. Selanjutnya akan dilakukan penyesuaian kembali oleh pihak pelaksana pembangunan,” katanya.
Sementara itu, berdasarkan perhitungan awal pemerintah daerah pada 2025, kebutuhan anggaran pembangunan Jembatan Gantung Leuwidingding diperkirakan mencapai lebih dari Rp1,2 miliar. Namun, angka tersebut masih akan dikaji kembali oleh pihak pelaksana dengan mempertimbangkan kondisi lapangan dan desain akhir pembangunan.
Sendi berharap pembangunan jembatan dapat berjalan lancar dan segera memberikan manfaat bagi masyarakat yang selama ini membutuhkan akses penghubung tersebut.
Ia juga mengajak masyarakat untuk ikut mendukung proses pembangunan dengan mengedepankan semangat gotong royong.
“Kami mengajak masyarakat untuk menyambut baik bantuan ini, bergotong royong selama proses pembangunan, dan setelah selesai nanti bersama-sama menjaga serta memelihara jembatan agar manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang,” pungkasnya.
